Sepertiga
Disepertiga bunga mekar, dan ayam mengeram, yang deras hujan membelai, dzikir aku. Hanyut dalam air susu ibu di umurku dulu. Malaikut itu, iblis itu, melempar dua carik kertas mengerat doaku.
Yang bisu bertulis menunggu; yang diam bersuara tatapan.
Memberi sujud tanpa wujud.
Aku menunggu, di batas nenek tua menghebuskan nafasnya yang belia, di penghujung hujan mendulum warna semesta merajut pelangi: aku berwudhu, mensucikan diri memandangmu: aku sembahyang, sembahyang cinta memeluk dahimu meniadakan ragu.
Adakah menunggu: selain membiarkan waktuwaktu pergi sejauh aku mengenalmu. Ada, di timbulnya mentari, aku terbangun membayang hangat detakmu.
Aku memandang, di luas lingkar sangkar kelopak matamu, sengaja aku memelihara diam: kubiarkan malam memaku dan siang menjadi kenang, biar angin tahajud di wajahku. Aku terlelap, menidurkan diri dan menemuimu pada sudut rindu. Aku semedi, semedi sampai pagi, akhirnya aku tergelincir ujung bibirmu.
Adakah memandang: selain meniadakan sinta dan sartika selama pupilku membesar mengarahmu. Ada, disaat surga tenggelam di hatiku dan terbit di matamu.
Sepertiga telah pergi juga, dua pertiga aku terengah engah. Sampai satu subuh aku mengeluh. Memandang atau menunggu?
