Serangkai Sketsa

RSS

Kesempurnaan cinta adalah keberterimaan, sampai akhirnya cinta itu paripurna, yaitu saat kita berjuang bersama sampai beriringan menatap wajahNya.

Sejak mengenal cinta, diamku menjadi doa. Kecemasanku berubah menjadi kekuatan. Setelah mengenal cinta, gerak tubuhku adalah kasih sayang. Dan penantianku menjadi ibadah penuh pasrah.

Sepertiga

Disepertiga bunga mekar, dan ayam mengeram,  yang deras hujan membelai, dzikir aku. Hanyut dalam air susu ibu di umurku dulu. Malaikut itu, iblis itu, melempar dua carik kertas mengerat doaku.

Yang bisu bertulis menunggu; yang diam bersuara tatapan.

Memberi sujud tanpa wujud.

Aku menunggu, di batas nenek tua menghebuskan nafasnya yang belia, di penghujung hujan mendulum warna semesta merajut pelangi: aku berwudhu, mensucikan diri memandangmu: aku sembahyang, sembahyang cinta memeluk dahimu meniadakan ragu.

Adakah menunggu: selain membiarkan waktuwaktu pergi sejauh aku mengenalmu. Ada, di timbulnya mentari, aku terbangun membayang hangat detakmu.

Aku memandang, di luas lingkar sangkar kelopak matamu, sengaja aku memelihara diam: kubiarkan malam memaku dan siang menjadi kenang, biar angin tahajud di wajahku. Aku terlelap, menidurkan diri dan menemuimu  pada sudut rindu. Aku semedi, semedi sampai pagi, akhirnya aku tergelincir ujung bibirmu.

Adakah memandang: selain meniadakan sinta dan sartika selama pupilku membesar mengarahmu. Ada, disaat surga tenggelam di hatiku dan terbit di matamu.

Sepertiga telah pergi juga, dua pertiga aku terengah engah. Sampai satu subuh aku mengeluh. Memandang atau menunggu?

May 3

Haruskan kuucapkan kata cinta, apabila telah begitu banyak isyarat yang kujerat dalam kehidupanmu.

Taken with instagram

Taken with instagram

Burung Manyar

Suara burung manyar mulai menyebar, bermaksud mengganggu nyanyian sunyi penghujung hari. Siang berpulang, malam menjelang. Dan tak jauh dari tempat tidur bulan, Dua orang manusia sedang duduk terpaku di bawah senja, yang perlahan mulai membelai mata. Kursi panjang itu, tempat mereka duduk saling menggenggam kayu, menjadi saksi: tak ada jarak namun tak saling mendekat. Maka aku memutuskan menunda bertemu, karena rindu kita belumlah padu. Dan biarkan kuubah rindu menjadi madu, sampai dibatas waktu, rindu terobati dengan bertemu. Memaksa waktu maju hanyalah membuat pilu. Dua manusia itu, tak saling menyapa, meski sekadar derap angin sore. Bagi mereka: menunda pandang adalah cara terindah menikmati cinta. saat jarak tak bernilai, dia menjadi kasih. Bila cinta terbentang waktu, entah kemana harus menuju, jadilah dia rindu. Dan aku, yang menunda dan turut melihat mereka, mencoba diam, mencoba mengahapus air mata. Dan terbang kembali ke hutan, menyulam nama. Bersama manyar-manyar yang kembali sadar: hutan itu berakar memori.



Dan dua manusia: berhimpun manyar ditemani merpati di batas hari. Satu pria satu wanita; saling menunggu dan memilih jumpa. “Kini kau telah kenakan gaunmu, dan aku berbalut jas hitam penuh rindu”

Aku!


Aku, aku bukan Chairil,

Dia yang ingin hidup seribu tahun lagi

Apalagi binatang jalang



Aku, jelas bukan Chairil.

Karena aku

Ingin mencintaimu lebih dari seribu tahun

Melewati batas usia dunia

Tak perlu menerjang

Hanya perlu merindu

Bagian jalan menyayangimu



Aku,

Yang tak menangis saat keluar dari rahim ibu

Tapi mengelu menyebut namamu

Senja jalan Margonda




Ada jingga membalut kota

Itu senja jalan margonda

Saat cinta mulai menyapa kita

Kuantar kau pulang

Setelah sebelumnya

tak ada kata dalam jumpa

tapi bukan perkara,

sebab hatiku,

sudah kau tanam didadamu

Pukul 00.00



Tiang listrik pada gang sempit itu

terpukul penjaga malam

Burung malam, mengantuk malu

Dan bunga menyibak pintu mekar

Terjaga aku



Tak tik tak tik tak

Pukul 00.00,



aku merindu deras

Setelah sebelumnya denyutku seirama dentum lagu

Kini detakku, secepat masa lalu

Kemana rindu mengalir

Bila yang dituju, terentang pohon perdu



Pukul 00.00 sudah lampau

Kini tenggat waktu,

Subuh tertabuh

Ayam pun bernyanyi: tangamu kini ditanganku



Aku pergi dulu!

Kemarikan Senyummu

 Separuh putaran sudah bulan mengejan

Terdiam rumput malu bergoyang



Kemarikan senyummu, bair kuabadikan dalam mataku

Menjadi bingkai penglihatanku,

Kemarikan senyummu, lalu merahlah pipimu

pewarna jalan kehidupan, pemendar rindu malamku



tak pernah habis senyummu dik,

boleh kuminta lagi, untuk diabadikan

membalut tubuhku siang dan malam

tak surut merah lesungmu dik,

pembara hati kekakuan jiwaku



Cuma satu yang tak ingin kulewati dik

Tak bisa ku tersenyum, dikala senyummu mengarah mataku

Dan aku tersenyum dengan manis bibirmu